Defisiensi Vitamin D
Artikel 1 Agu 2021

Defisiensi Vitamin D

Fakta defisiensi vitamin D di Indonesia pada berbagai kelompok usia serta faktor yang memengaruhi paparan sinar matahari.

Defisiensi vitamin D masih menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Indonesia, bahkan pada negara tropis yang kaya paparan sinar matahari. Kekurangan vitamin D ditemukan pada hampir seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak, ibu hamil, dewasa, hingga lanjut usia.

Defisiensi Vitamin D di Indonesia

Masyarakat di negara tropis seharusnya memiliki kadar vitamin D yang cukup. Namun, berbagai penelitian justru menunjukkan fakta sebaliknya. Di Indonesia, angka kekurangan vitamin D dilaporkan sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 95% pada populasi tertentu.

Data SEANUTS 2011–2012 menunjukkan bahwa anak Indonesia usia 2–12 tahun mengalami defisiensi vitamin D sebesar 38,76%, dengan prevalensi lebih tinggi pada anak perempuan. Selain itu, sekitar 61,25% ibu hamil dan 44% anak usia 6 bulan–12 tahun berada dalam kondisi defisiensi vitamin D.

  • Perempuan dewasa (18–40 tahun): 63%
  • Lansia: 78,2%

Penelitian Universitas Padjadjaran pada ibu hamil di empat kota di Indonesia menemukan bahwa 95,6% ibu hamil mengalami hipovitaminosis vitamin D, dengan 70% di antaranya tergolong defisiensi dan 25,6% insufisiensi.

Hasil penelitian lanjutan juga menunjukkan bahwa bayi baru lahir, perempuan dewasa, lansia, serta penderita TBC tulang dan lupus memiliki kadar vitamin D darah di bawah 20 ng/mL, yang termasuk kategori defisiensi.

Paparan Sinar Matahari dan Risiko Defisiensi Vitamin D

Kurangnya paparan sinar matahari menjadi salah satu faktor utama defisiensi vitamin D. Penelitian oleh Dian Caturini Sulistyoningrum (UGM) pada remaja usia 15–18 tahun di Yogyakarta menunjukkan bahwa hampir seluruh subjek penelitian mengalami defisiensi vitamin D, dengan kadar rata-rata hanya 15 ng/dL.

Studi lain oleh Dina Keumala Sari dkk (2017) pada perempuan di Sumatera Utara juga menunjukkan hasil serupa. Dari 292 responden, hanya 12 orang yang memiliki kadar vitamin D cukup, sementara sisanya mengalami defisiensi atau insufisiensi, bahkan belum mencapai standar optimal untuk negara tropis.

Penyebab Defisiensi Vitamin D

Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya defisiensi vitamin D di Indonesia antara lain:

  • Kurangnya aktivitas di luar ruangan
  • Kebiasaan berpakaian tertutup
  • Pigmentasi kulit yang lebih gelap
  • Penggunaan tabir surya berlebihan
  • Penyakit kronis dan penggunaan obat tertentu
  • Obesitas
  • Faktor genetik yang memengaruhi metabolisme vitamin D

Faktor genetik pada populasi Indonesia diketahui dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mensintesis vitamin D. Tanpa vitamin D yang cukup, hanya sekitar 10–15% kalsium dari makanan yang dapat diserap tubuh.

Dampak Kekurangan Vitamin D

Kekurangan vitamin D tidak hanya berdampak pada kesehatan tulang, tetapi juga berpengaruh terhadap berbagai sistem tubuh, seperti sistem kekebalan, kardiovaskular, dan endokrin.

  • Osteoporosis dan penurunan massa tulang
  • Penyakit kardiovaskular
  • Diabetes
  • Kanker tertentu
  • Infeksi saluran pernapasan, influenza, dan tuberkulosis

Status vitamin D yang optimal dapat meningkatkan produksi protein antimikroba, membantu tubuh melawan bakteri, virus, dan jamur, serta mendukung fungsi paru-paru dan pembersihan saluran pernapasan secara alami.

Memenuhi kebutuhan vitamin D melalui paparan sinar matahari yang cukup, pola makan seimbang, dan suplementasi bila diperlukan, merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.